Reinvensi Pelopor Bali: Da Maria

Reinvensi Pelopor Bali: Da Maria

Di Bali, perubahan adalah satu-satunya hal yang konsisten. Tren datang dan pergi, venue lahir dan tenggelam. Tapi ada sedikit tempat yang bukan sekadar ikut arus—mereka membentuknya. Da Maria adalah salah satunya.

Memasuki tahun kesembilan, restoran dan bar Italia di jantung Seminyak ini tak sekadar bertahan—ia berevolusi. Tetap setia pada akar Italia yang kuat, namun kini hadir dengan energi baru: lebih tropis, lebih Mediterania, dan terasa semakin relevan dengan ritme Bali hari ini.

Sejak dibuka pada 2016, Da Maria dikenal sebagai tempat di mana pizza Neapolitan, koktail kuat, dan malam yang panjang bertemu dalam satu ruang. Interiornya ikonik, musiknya hidup, dan crowd-nya selalu tepat. Di pulau dengan perputaran venue yang brutal, status sebagai “institusi” bukan klaim kosong—itu hasil konsistensi.

Kini, Da Maria membuka babak baru. Evolusi ini dipimpin oleh tim intinya sendiri di bawah payung Mexicola Group—nama besar di dunia hospitality Indonesia, sekaligus otak di balik Mosto, bar wine natural pertama di Tanah Air.

Di dapur, Executive Chef Lorenzo De Petris memimpin arah baru bersama Group Beverage Director Denny Bakiev, sementara bar kini berada di tangan Luca Marcolin, eks Zuma Dubai—bar yang rutin nongkrong di daftar World’s 50 Best Bars. Kombinasi yang terdengar seperti resep serius. Dan memang begitu.

“Bagi kami, menjaga Da Maria tetap segar dan relevan adalah keharusan,” ujar De Petris, yang rekam jejaknya mencakup dapur berbintang Michelin seperti Ristorante Duomo dan Le Gavroche.

Pendekatannya terasa jelas di menu. Italia tetap jadi fondasi, tapi kini cakrawalanya melebar. “Kami bergerak ke Mediterania,” katanya. Lebih berani, lebih luas, tanpa kehilangan presisi.

Menu dibuka dengan antipasti yang ringan namun ekspresif: beef tartare grass-fed dengan anchoïade dan Pecorino—reinterpretasi modern dari carpaccio legendaris Da Maria—hingga sarden asap dingin dengan lemon, minyak zaitun, dan sentuhan yuzu yang segar. Pizza tetap jadi bintang, tapi kini dikurasi ketat: enam pilihan, termasuk varian tomat hijau dengan mozzarella, ‘nduja lokal, dan manchego.

Pasta tampil simpel tapi tajam. Tonnarelli dengan mentega lemon manis, udang, dan bottarga Jepang adalah contoh bagaimana restraint justru memperkuat rasa. Di bagian secondi, inspirasi Mediterania terasa lebih luas: tusuk daging domba rosemary-lemon, ayam muda dengan saus rouille, hingga ikan segar yang dipanggang di atas batu lava dengan sentuhan citrus.

Meski bahan impor seperti prosciutto, Parmigiano Reggiano, dan daging sapi Australia tetap hadir, fokus kini condong ke lokal. “Kami ingin lingkungan tropis Bali tercermin di piring,” ujar De Petris. Dari hasil bumi Kintamani, charcuterie yang diproduksi di Bali, hingga penggunaan tepung lokal untuk pizza Neapolitan—ini bukan sekadar tren, tapi komitmen.

Di bar, Bakiev dan Marcolin membawa pendekatan internasional yang playful tapi presisi. Klasik Italia tetap jadi titik berangkat, namun teknik modern dan bahan premium kini mengambil peran utama. Spritz favorit tetap dipertahankan, tapi sorotan kini jatuh ke martini.

Disajikan langsung di meja dengan martini trolley, pengalaman ini terasa teatrikal tanpa berlebihan. Tamu bisa memilih gaya kering klasik atau versi tropis, lalu mempersonalisasi minuman lewat aroma infus buatan sendiri: Limoni (kulit lemon dan bunga citrus), Erbe (rosemary, thyme, sage dengan sentuhan extra virgin olive oil), atau Mare—distilasi ulang cangkang tiram dan anggur laut yang terasa seperti angin Pantai Amalfi dalam gelas.

“Ini tentang menghadirkan pengalaman koktail yang benar-benar internasional,” kata Marcolin. “Fun, beragam, tapi rasa tetap nomor satu.”

Program wine pun ikut bergerak. Di bawah arahan Group Sommelier Federico Sirito, daftar wine kini fokus pada produsen Italia yang approachable, dengan sentuhan minimal-intervention dan beberapa rilisan vintage bagi mereka yang ingin eksplorasi lebih jauh.

Tak semuanya berubah. Musik larut malam yang legendaris tetap ada. Interior geometris karya arsitek Roma Lazzarini Pickering, terinspirasi Pantai Amalfi era 1960-an, masih jadi jiwa ruang ini. Namun dengan kembalinya Carl Pickering ke Bali, akan ada penyegaran halus—bukan reset total, melainkan fine-tuning.

“Da Maria seperti taman Mediterania yang abadi,” ujar Pickering. “Italia di intinya, tapi juga Bali secara abstrak.”

Sebagai penutup lingkaran baru ini, Da Maria akan kembali membuka makan siang akhir pekan—menghadirkan suasana yang mengalir mulus dari siang santai ke malam yang panjang.

Era baru, energi baru. Tapi satu hal tetap sama: Da Maria masih tahu cara membuat orang datang, tinggal lebih lama, dan kembali lagi.

Berita Terkini

Berita Terbaru

Daftar Terbaru

News

Berita Terbaru

Flash News

RuangJP

Pemilu

Berita Terkini

Prediksi Bola

Technology

Otomotif

Berita Terbaru

Teknologi

Berita terkini

Berita Pemilu

Berita Teknologi

Hiburan

master Slote

Berita Terkini

Pendidikan

Resep

Cek Ongkir Cargo

Togel Deposit Pulsa

Daftar Judi Slot Online Terpercaya

Slot yang lagi gacor

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *