5 Mitos Vaksin Ibu Hamil yang Bikin Moms Ragu, Ini Faktanya

5 Mitos Vaksin Ibu Hamil yang Bikin Moms Ragu, Ini Faktanya

Begitu dokter kandungan menyebut kata “vaksin”, wajar kalau Moms langsung deg-degan. Selama hamil, minum obat flu saja kita pikir dua kali. Apalagi disuntik, rasanya seperti memasukkan sesuatu yang asing ke tubuh yang sedang menjaga si Kecil.

Belum lagi komentar di grup WhatsApp keluarga. Ada yang bilang vaksin bisa bikin keguguran, ada yang bilang flu cuma penyakit ringan, ada juga yang yakin suntik TT sudah lebih dari cukup. Wajar kalau Moms jadi bingung harus percaya yang mana.

Kabar baiknya, vaksin yang direkomendasikan untuk ibu hamil justru dirancang untuk melindungi dua orang sekaligus: Moms dan si Kecil di bulan-bulan pertamanya. Yuk, kita luruskan satu per satu mitos vaksin ibu hamil yang paling sering bikin ragu, lengkap dengan penjelasan para dokter.

Mitos 1: Vaksin Saat Hamil Bisa Bikin Keguguran atau Membahayakan Janin

Ini ketakutan paling umum, dan sangat bisa dipahami. Tapi kuncinya ada di jenis vaksinnya.

Vaksin yang direkomendasikan selama kehamilan, yaitu vaksin flu suntik dan Tdap, berisi virus atau komponen kuman yang sudah tidak aktif. Artinya, isinya tidak bisa berkembang biak dan tidak bisa membuat Moms atau janin sakit. Yang terbentuk hanyalah antibodi, semacam “pasukan penjaga” di tubuh Moms. Menurut dr. Agatha Perdana, Sp.OG,

“Vaksin yang diberikan itu rata-rata kuman yang dimatikan, jadi bukan kuman hidup. Kumannya sudah dimodifikasi, lalu badan ibu membentuk antibodi yang ditransfer ke bayinya.”

 

Vaksin yang memang ditunda sampai setelah melahirkan adalah vaksin hidup yang dilemahkan, misalnya MMR (campak, gondongan, rubella) dan cacar air. Jadi bukan semua vaksin dilarang, hanya jenis tertentu.

Soal keamanannya juga sudah diteliti. Uji klinis vaksin flu inaktif pada lebih dari 5.000 ibu hamil di trimester kedua dan ketiga tidak menemukan perbedaan angka keguguran, bayi lahir mati, persalinan prematur, maupun berat lahir rendah dibandingkan kelompok yang tidak divaksin.

Faktanya: Vaksin flu suntik dan Tdap yang direkomendasikan untuk ibu hamil berisi komponen tidak aktif dan tidak meningkatkan risiko keguguran. Yang perlu dihindari selama hamil adalah vaksin hidup.

Ibu hamil berkonsultasi dengan dokter soal mitos vaksin ibu hamil

Mitos 2: Flu Cuma Penyakit Ringan, Nggak Perlu Repot Vaksin

Kalau sedang tidak hamil, flu memang sering lewat dengan istirahat dan minum air hangat. Tapi kehamilan mengubah cara kerja sistem imun, jantung, dan paru-paru Moms. Akibatnya, flu yang biasanya ringan bisa berkembang jadi lebih berat.

Komplikasi flu pada ibu hamil bisa berupa pneumonia, gangguan napas berat, sampai perlu dirawat di ICU. Flu berat juga dikaitkan dengan risiko persalinan prematur dan bayi berat lahir rendah. Karena itu, POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) dalam konsensusnya merekomendasikan vaksin influenza bagi ibu hamil di setiap trimester. Menurut dr. Wiskara,

“Yang paling berbahaya adalah kalau sampai demam. Saat suhu ibu naik, suhu janin juga ikut naik. Kalau dicek dengan Doppler, detak jantung janinnya bisa tinggi sekali.”

 

DR. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI, menjelaskan dalam acara edukasi vaksin influenza yang digelar Kalventis bahwa vaksin flu boleh diberikan di trimester berapa pun. Tujuannya mencegah flu berat pada ibu yang bisa memengaruhi pertumbuhan janin.

Manfaatnya juga sampai ke si Kecil. Menurut dr. Alamsyah Aziz, Ketua Bidang Ilmiah PP POGI, vaksin flu saat hamil memberi perlindungan pasif lewat antibodi ibu hingga bayi berusia 6 bulan. Ini penting karena bayi di bawah 6 bulan belum bisa mendapat vaksin flu sendiri.

Faktanya: Flu saat hamil bisa jauh lebih serius dibandingkan saat tidak hamil. Vaksin flu melindungi Moms sekaligus memberi bekal antibodi untuk si Kecil di 6 bulan pertamanya.

Ibu hamil setelah menerima vaksin flu dan Tdap sesuai jadwal vaksin ibu hamil

Mitos 3: Semua Vaksin Flu Sama Saja, yang Penting Aman untuk Ibu Hamil

Setelah yakin mau vaksin flu, banyak Moms berpikir urusannya selesai. Asal vaksinnya aman, merek atau jenis apa pun dianggap sama. Padahal ada satu hal yang sering terlewat: aman dan diindikasikan itu dua hal yang berbeda.

Vaksin flu inaktif umumnya dianggap aman untuk ibu hamil. Tapi tidak semua vaksin flu secara resmi mencantumkan ibu hamil dalam indikasinya. Indikasi adalah peruntukan resmi vaksin yang tertulis di informasi produk, berdasarkan uji klinis yang memang melibatkan kelompok tersebut.

Beberapa vaksin flu sudah diuji pada ibu hamil dan mencantumkan dua indikasi sekaligus: melindungi ibu hamil, dan memberi perlindungan pasif untuk bayi sejak lahir hingga di bawah 6 bulan. Vaksin lain mungkin hanya menyebut “boleh digunakan bila diperlukan” selama kehamilan. Menurut dr. Wiskara,

“Ada beberapa bentuk vaksin tetanus, dan tidak semua vaksin bisa masuk ke ibu hamil. Yang sekarang direkomendasikan adalah Tdap. Ada Adacel untuk Tdap dan Vaxigrip untuk influenza, yang sudah direkomendasikan untuk diberikan ke ibu di setiap kehamilan.”

 

Analogi sederhananya seperti car seat. Banyak car seat aman dipakai, tapi Moms tentu lebih tenang memilih yang memang dirancang dan diuji untuk bayi baru lahir. Begitu juga vaksin flu. Pilih yang memang diperuntukkan bagi ibu hamil, bukan sekadar aman.

Saat konsultasi, Moms bisa bertanya ke dokter atau petugas vaksin:

  • Apakah vaksin flu ini diindikasikan untuk ibu hamil?
  • Apakah vaksin ini juga ditujukan untuk perlindungan bayi di bawah 6 bulan?
  • Apakah formulanya sudah sesuai rekomendasi WHO untuk musim flu tahun ini?

Faktanya: Vaksin flu tidak semuanya sama. Cari vaksin flu yang diindikasikan untuk ibu hamil, bukan hanya yang dianggap aman, supaya perlindungannya untuk Moms dan si Kecil sudah teruji.

Ibu hamil setelah menerima vaksin flu dan Tdap sesuai jadwal vaksin ibu hamil

Mitos 4: Sudah Suntik TT, Jadi Nggak Perlu Tdap Lagi

Banyak Moms sudah mendapat suntik TT atau Td sebelum menikah atau saat periksa kehamilan di Puskesmas. Jadi wajar kalau muncul pikiran, “Lho, kan sudah divaksin tetanus?”

Bedanya ada di satu huruf: P, alias pertusis. Vaksin TT hanya melindungi dari tetanus, dan Td dari tetanus serta difteri. Keduanya tidak mengandung komponen pertusis. Sementara Tdap (Tetanus, Difteri, dan Acellular Pertussis) melindungi dari ketiganya.

Pertusis atau batuk rejan, yang juga dikenal sebagai batuk 100 hari, mungkin terdengar seperti penyakit zaman dulu. Kenyataannya, data Kemenkes menunjukkan ada 132 kabupaten dan kota di 26 provinsi yang terindikasi kasus pertusis sepanjang 2024. Pada bayi baru lahir, batuk rejan bisa membuat si Kecil batuk sampai sulit bernapas dan wajahnya membiru.

Masalahnya, ada masa rawan setelah lahir. Dr. Mulya Rahma Karyanti dari PP IDAI menjelaskan bahwa di usia 0 sampai 2 bulan, tubuh bayi belum bisa membentuk antibodi sendiri terhadap pertusis dan belum mendapat imunisasi apa pun. Di masa inilah antibodi dari Moms, yang dialirkan lewat plasenta setelah vaksin Tdap, menjadi tameng pertamanya.

Faktanya: Suntik TT tidak melindungi si Kecil dari batuk rejan. Ibu hamil tetap perlu Tdap, umumnya di usia kehamilan 27 sampai 36 minggu, dan sebaiknya pilih vaksin Tdap dengan kandungan pertusis yang paling lengkap.

Baca juga: [LINK: Hamil Kok Malah Disuruh Vaksin? Jadwal Vaksin Flu, Tdap, dan RSV yang Perlu Moms Catat]

tes TTGO ibu hamil

Mitos 5: Sudah Vaksin di Kehamilan Sebelumnya, Jadi Kali Ini Aman

Untuk Moms yang sedang menanti anak kedua atau ketiga, pertanyaan ini hampir pasti muncul. Kan sudah pernah vaksin, masa harus disuntik lagi?

Jawabannya, iya, perlu. Alasannya berbeda untuk flu dan Tdap.

Vaksin Tdap diulang di setiap kehamilan. Kadar antibodi pertusis di tubuh orang dewasa turun cukup cepat. Supaya si Kecil yang sekarang di kandungan mendapat bekal antibodi setinggi mungkin, vaksin perlu diberikan lagi di kehamilan ini, meskipun jarak dengan kehamilan sebelumnya cukup dekat.

Vaksin flu diberikan setiap tahun. Virus influenza terus berubah, sehingga formula vaksinnya pun diperbarui mengikuti rekomendasi WHO. Vaksin flu tahun lalu belum tentu cocok dengan virus yang beredar sekarang.

Faktanya: Vaksin Tdap diberikan di setiap kehamilan, dan vaksin flu diperbarui setiap musim. Perlindungan dari kehamilan sebelumnya tidak cukup untuk si Kecil yang sekarang.

Sebelum ke Klinik, Siapkan Ini Dulu

Setelah mitosnya terjawab, langkah berikutnya jadi lebih ringan. Beberapa hal ini bisa membantu Moms lebih siap saat jadwal vaksin tiba.

  1. Bawa buku KIA dan catatan vaksin sebelumnya. Termasuk riwayat suntik TT atau Td, supaya dokter bisa menyesuaikan jadwal.
  2. Siapkan pertanyaan soal jenis vaksin. Khususnya tanyakan apakah vaksinnya diindikasikan untuk ibu hamil.
  3. Ceritakan kondisi kesehatan Moms. Misalnya alergi berat terhadap vaksin sebelumnya, atau sedang demam. Kalau sedang sakit cukup berat, vaksin biasanya ditunda sampai Moms pulih.
  4. Pakai baju yang memudahkan suntik di lengan atas. Atasan berlengan pendek atau longgar akan sangat membantu.
  5. Kenali efek samping yang wajar. Lengan pegal, sedikit bengkak, atau badan agak lemas selama 1 sampai 2 hari tergolong umum. Kalau muncul demam tinggi, sesak, atau gejala lain yang mengkhawatirkan, segera hubungi dokter.

Vaksin flu dan Tdap juga bisa diberikan di hari yang sama dengan lokasi suntikan berbeda. Tapi tetap ikuti arahan dokter kandungan Moms, ya.

Ibu hamil berkonsultasi dengan dokter soal mitos vaksin ibu hamil

Ragu sebelum vaksin bukan tanda Moms terlalu khawatir. Itu tanda Moms sedang berusaha memilih yang terbaik untuk si Kecil. Bedanya, sekarang Moms sudah tahu mana yang mitos dan mana yang fakta.

Vaksin flu dan Tdap adalah salah satu cara paling sederhana untuk menjaga Moms dan si Kecil di bulan-bulan pertamanya. Bawa daftar pertanyaan tadi ke jadwal kontrol berikutnya, lalu diskusikan pilihan vaksin yang paling pas bersama dokter kandungan.

Punya pertanyaan lain soal vaksin saat hamil, atau pengalaman yang ingin dibagi? Yuk, cerita di kolom komentar. Siapa tahu bisa bantu Moms lain yang sedang ragu.

 

Klik di sini untuk Reservasi Vaksin khusus Ibu Hamil Sekarang

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Streaming Film

Nonton Film gratis

Jasa Backlink

Download Anime Batch

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *