Oleh: Dahlan Iskan
Sejarah itu kadang lucu. Kita sering ribut soal masa depan, tapi lupa siapa yang “ngasih modal” di masa lalu. Ambil contoh satu hal sederhana: keyakinan bahwa Tuhan itu satu.
Hari ini, konsep itu terasa biasa saja. Diajarkan di sekolah, jadi bahan khutbah, bahkan jadi identitas. Tapi menurut Prof. Al Makin, ide itu bukan datang tiba-tiba. Ada perjalanan panjang, dan salah satu titik pentingnya: Persia kuno—yang sekarang kita kenal sebagai Iran.
The Luxury of Space: Perjalanan Mewah Menjelajah Indonesia
Jauh sebelum agama-agama besar seperti Islam, Kristen, dan Yahudi berkembang seperti sekarang, wilayah Persia sudah lebih dulu mengenal konsep ketuhanan yang tunggal.
Nama besarnya: Zaratustra.
Ajarannya: Zoroastrianisme.
Tuhannya: Ahura Mazda.
Bukan sekadar teori, ini sudah jadi sistem kepercayaan yang bertahan ratusan tahun—bahkan sampai era Cyrus the Great, raja yang sering disebut sebagai penguasa superpower pertama di dunia.
Jadi kalau hari ini kita merasa konsep “Tuhan itu satu” adalah sesuatu yang final dan mapan, sebenarnya itu hasil estafet panjang. Dan, kata Al Makin, Persia punya peran besar di situ.
Jakarta Unfiltered: Panduan Jitu Menaklukkan Jakarta
Masalahnya, sejarah tidak pernah netral. Ia sering dibaca sesuai kepentingan. Di dunia Islam sendiri, misalnya, ada perdebatan menarik. Banyak yang menganggap Imam Al-Ghazali sebagai filsuf besar. Tapi Al Makin punya pandangan berbeda: Ghazali itu teolog, bukan filsuf.
Bedanya? Sederhana tapi dalam.
Filsafat itu bertanya tanpa rem. Teologi punya garis batas—namanya doktrin. Dan menurutnya, sejak dominasi pemikiran Ghazali, tradisi filsafat di dunia Sunni pelan-pelan meredup. Sementara di Iran—yang mayoritas Syiah—tradisi berpikir justru tetap hidup.
Makanya jangan heran kalau Iran sering terlihat “berisik” secara intelektual. Itu bukan karena mereka suka debat. Tapi karena debat adalah bagian dari tradisi.
Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

